39 - الزمر - Az-Zumar

Juz : 24

The Groups
Meccan

إِنَّآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ لِلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ ۖ فَمَنِ ٱهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ 41

(41) Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

(41) 

Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Saw.:

إِنَّا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ

يَعْنِي: الْقُرْآنَ

لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az-Zumar:41)

kepada semua makhluk, manusia, dan jin, agar kamu memberi peringatan kepada mereka dengan Al-Qur'an itu.

فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ

siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri. (Az-Zumar:41)

Yakni sesungguhnya manfaat dari petunjuk itu kembali kepada dirinya sendiri.

وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا

dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri. (Az-Zumar:41)

Artinya, sesungguhnya kerugian dari akibat perbuatannya itu menimpa dirinya sendiri.

وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (Az-Zumar:41)

Yaitu diserahi tanggung jawab agar mereka mendapat petunjuk, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (Hud:12)

Dan firman Allah Swt. :

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. (Ar-Ra'd:4)

Kemudian Allah Swt. menceritakan perihal diri-Nya, bahwa Dialah Yang mengatur seluruh alam wujud ini menurut apa yang dikehendaki-Nya, dan bahwa Dialah yang mematikan manusia dengan menugaskan para malaikat pencabut nyawa untuk mencabut roh mereka dari tubuhnya. Ini disebut kematian besar. Ada juga yang dinamakan kematian kecil, yaitu di saat yang bersangkutan tidur. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurna­kan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Aliah­lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (Al-An'am: 6-61)

Dalam ayat ini disebutkan dua kematian, yaitu kematian kecil, kemudian kematian besar. Sedang dalam surat Az-Zumar disebutkan sebaliknya, yaitu pada mulanya disebut kematian besar, kemudian kematian kecil, melalui firman-Nya:


ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ 42

(42) Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

(42) 


اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (Az-Zumar:42)

Di dalam makna ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa semua roh dikumpulkan di mala-ul a'la, seperti yang disebutkan di dalam hadis marfu' yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dan lain-lainnya. Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Ubaidillah ibnu Umar, dari Sa'id ibnu Abu Sa'id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فلْينْفُضْه بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Apabila seseorang di antara kalian menempati peraduannya, hendaklah terlebih dahulu menyapu tempat tidurnya dengan bagian dalam kainnya, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui kotoran apa yang telah ditinggalkannya pada peraduannya itu. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa, Dengan menyebut nama Engkau, ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan menyebut nama Engkau aku mengangkat (membangunkan)nya. Jika Engkau memegang jiwaku, maka kasihanilah ia; dan jika Engkau melepaskannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa arwah orang-orang yang mati dicabut bila mereka mati, begitu pula arwah orang-orang yang hidup dicabut bila mereka tidur, lalu mereka saling kenal menurut apa yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.

فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ

maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya. (Az-Zumar:42)

Yakni arwah orang yang telah mati dan melepaskan arwah orang yang hidup sampai waktu yang ditentukan. As-Saddi mengatakan sampai tiba saat ajalnya.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Allah menahan jiwa orang yang telah mati dan melepaskan jiwa orang yang hidup, dan tidak pernah terjadi kekeliruan dalam hal ini.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az-Zumar:42)


أَمِ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُفَعَآءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا۟ لَا يَمْلِكُونَ شَيْـًۭٔا وَلَا يَعْقِلُونَ 43

(43) Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah. Katakanlah: "Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?"

(43) 

Allah Swt. mencela orang-orang musyrik karena mereka mengambil para pemberi syafaat selain dari Allah, yaitu berhala-berhala dan sekutu-sekutu yang mereka ada-adakan oleh diri mereka sendiri, tanpa dalil dan tanpa bukti yang memperkuat perbuatan mereka itu. Padahal berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu tidak memiliki sesuatu pun dari utusan tersebut, bahkan mereka tidak berakal, tidak berpendengaran, dan tidak berpenglihatan. Berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu tiada lain hanyalah benda mati yangjauh lebih buruk daripada makhluk hidup (hewan). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

قُلْ

Katakanlah. (Az-Zumar:43)

hai Muhammad, kepada mereka yang mengira bahwa para pemberi syafaat yang mereka ada-adakan itu dapat memberi pertolongan kepada mereka di sisi Allah. Beritahukanlah kepada mereka bahwa syafaat itu tidak diterima di sisi Allah kecuali bagi orang yang diridai-Nya dan mendapat izin dari-Nya untuk memberi syafaat, dalam hal ini segala sesuatunya kembali kepada Allah.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ

Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. (Al-Baqarah:255)

Adapun firman Allah Swt.:


قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًۭا ۖ لَّهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 44

(44) Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan"

(44) 


لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ

Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. (Az-Zumar:44)

Maksudnya, Dialah Yang mengatur semuanya itu.

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Az-Zumar:44)

Yakni kelak di hari kiamat, lalu Dia akan memutuskan perkara di antara kalian dengan keadilan-Nya, dan memberikan balasan kepada setiap diri sesuai dengan amal perbuatannya. Dalam firman selanjutnya Allah Swt. mencela kaum musyrik pula, yaitu:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ

Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut. (Az-Zumar:45)

Yaitu apabila dikatakan kepada mereka, Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah semata.

اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ

kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat. (Az-Zumar:45)

Mujahid mengatakan bahwa isyma-azzat artinya mengerut; menurut As-Saddi artinya tidak suka; menurut Qatadah artinya kafir dan sombong; dan menurut Malik dari Zaid ibnu Aslam, artinya menjadi sombong, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, La ilaha illallah (Tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. (Ash-Shaffat:35)

Yakni tidak mau mengikuti dan tidak mau tunduk kepadanya, maka hati mereka tidak mau menerima kebaikan; dan barang siapa yang tidak menerima kebaikan, berarti menerima keburukan. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:


وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحْدَهُ ٱشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ 45

(45) Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.

(45) 


وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

Dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut. (Az-Zumar:45)

Yaitu berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu yang disebut, menurut Mujahid.

إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

tiba-tiba mereka bergirang hati. (Az-Zumar:45)

Maksudnya, gembira dan senang hati.


قُلِ ٱللَّهُمَّ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ عَٰلِمَ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ أَنتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِى مَا كَانُوا۟ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ 46

(46) Katakanlah: "Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya".

(46) 

Allah Swt. dalam firman berikutnya—setelah menyebutkan perihal orang-orang musyrik yang melakukan perbuatan tercela karena mereka suka mempersekutukan Allah dan lari dari tauhid— menyebutkan:

قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Katakanlah, "Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui hal yang gaib dan yang nyata. (Az-Zumar: 46)

Yakni serulah olehmu hanya Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, dan Yang menjadikannya tanpa contoh terlebih dahulu.

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Yang mengetahui hal yang gaib dan yang nyata. (Az-Zumar: 46)

Yaitu yang tersembunyi dan yang terang-terangan.

أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya. (Az-Zumar: 46)

Yakni dalam kehidupan dunia mereka, maka Engkau akan memutuskan perkara di antara mereka pada hari mereka dikembalikan dan dibangunkan dari kuburnya.

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا] بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ؟ قَالَتْ: كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: "اللَّهُمَّ رب جبريل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السموات وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ"

telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Amar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah ibnu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Siti Aisyah r.a. tentang doa pembukaan yang selalu dibaca oleh Rasulullah Saw. dalam salatnya di malam hari. Maka Siti Aisyah r.a. menjawab bahwa Rasulullah Saw. apabila bangkit di malam harinya mengerjakan salat, beliau membukanya dengan bacaan berikut: Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui hal yang gaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya. Tunjukilah aku kepada kebenaran dari apa yang diperselisihkan itu, dengan seizin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.

Imam Ahmad mengatakan:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَأَخْبَرَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيم، عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ قَالَ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، إِنِّي أَعْهَدُ إِلَيْكَ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَنِّي أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، فَإِنَّكَ إِنْ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي تُقَرِّبُنِي مِنَ الشَّرِّ وَتُبَاعِدُنِي مِنَ الْخَيْرِ، وَإِنِّي لَا أَثِقُ إِلَّا بِرَحْمَتِكَ، فَاجْعَلْ لِي عِنْدَكَ عَهْدًا تُوَفِّينيه يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ، إِلَّا قَالَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِمَلَائِكَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِنَّ عَبْدِي قَدْ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فَأَوْفُوهُ إِيَّاهُ، فَيُدْخِلُهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ". قَالَ سُهَيْلٌ: فَأَخْبَرْتُ الْقَاسِمَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَوْنًا أَخْبَرَ بِكَذَا وَكَذَا؟ فَقَالَ: مَا فِي أَهْلِنَا جَارِيَةٌ إِلَّا وَهِيَ تَقُولُ هَذَا فِي خِدْرِهَا.

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Suhail, dari Abu Saleh dan Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Aun ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan, "Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui hal yang gaib dan yang nyata, sesungguhnya aku berjanji kepada-Mu di dunia ini bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Mu. Dan sesungguhnya jika Engkau serahkan diriku kepada hawa nafsuku, niscaya hawa nafsuku mendekatkan diriku kepada keburukan dan menjauhkannya dari kebaikan. Dan sesungguhnya aku tidak percaya selain kepada rahmat-Mu, maka jadikanlah bagiku di sisi-Mu suatu janji yang kelak Engkau akan memenuhinya kepadaku di hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji," kecuali Allah berfirman kepada para malaikat-Nya pada hari kiamat nanti, "Sesungguhnya hamba-Ku ini telah membuat suatu perjanjian dengan-Ku, maka penuhilah janji itu kepadanya, " lalu Allah memasukkannya ke dalam surga.

Suhail mengatakan bahwa setelah itu ia menanyakannya kepada Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa Aun pernah menceritakan hadis yang bunyinya demikian. Maka Al-Qasim ibnu Abdur Rahman menjawab, bahwa tiada seorang anak perempuan pun di kalangan kami melainkan membaca doa ini di dalam kemahnya masing-masing.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara tunggal.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، حَدَّثَنِي حُييّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ؛ أَنَّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ قَالَ: أَخْرَجَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو قِرْطَاسًا وَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا يقول: "اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ، وَإِلَهُ كُلِّ شَيْءٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ، أُعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأُعُوذُ بِكَ أَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي إِثْمًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ".قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ حِينَ يُرِيدُ أَنْ يَنَامَ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Huyay ibnu Abdullah; Abu Abdur Rahman pernah bercerita kepadanya bahwa Abdullah ibnu Amr r.a. mengeluarkan secarik kertas untuk kami, lalu berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah mengajari kami doa berikut: Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkau adalah Pemilik segala sesuatu dan Tuhannya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Mu, dan para malaikat bersaksi (demikian pula). Aku berlindung kepada Engkau dari setan dan godaannya. Dan aku berlindung kepada Engkau agar aku tidak melakukan perbuatan dosa terhadap diriku, atau menyeret seorang muslim untuk melakukannya.

Abu Abdur Rahman r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menganjurkan kepada Abdullah ibnu Amr untuk mengucapkan doa tersebut di kala ia hendak tidur.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan secara tunggal pula.

قَالَ [الْإِمَامُ] أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْأَلْهَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَاشِدٍ الحُبْرَاني قَالَ: أَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو فَقُلْتُ لَهُ: حَدِّثْنَا مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَي صَحِيفَةً فَقَالَ: هَذَا مَا كَتَبَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرْتُ فِيهَا فَإِذَا فِيهَا أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلِّمْنِي مَا أَقُولُ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَبَا بَكْرٍ، قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيٍّ وَمَلِيكَهِ، أُعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، أَوْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ".

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy, dari Muhammad ibnu Ziad Al-Alhani, dari Abu Rasyid Al-Hibrani yang menceritakan bahwa ia datang kepada Abdullah ibnu Amr r.a., lalu berkata kepadanya, "Ceritakanlah kepada kami apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Saw." Maka Abdullah ibnu Amr r.a. membuka sebuah lembaran, lalu berkata, "Inilah yang telah dituliskan untukku dari Rasulullah Saw." Maka Aku melihatnya, dan ternyata di dalamnya disebutkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.”Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu doa yang kuucapkan di pagi hari dan di petang hari." Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: Hai Abu Bakar, ucapkanlah, "Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Tuhan segala sesuatu dan Yang memilikinya. Dan aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan hawa nafsuku dan dari kejahatan setan dan godaannya, atau melaku­kan suatu perbuatan buruk yang berakibat memudaratkan diriku, atau menjerumuskan seorang muslim karenanya.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini dari Al-Hasan ibnu Arafah, dari Ismail ibnu Iyasy, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, bila ditinjau dari segi jalurnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sayyar, dari Lai's, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Abu Bakar As-Siddiq pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah memerintahkan kepadanya untuk mengucapkan doa berikut di pagi hari, di petang hari, dan bila telah berada di peraduan di malam hari, yaitu: "Ya Allah, Pencipta langit dan bumi," hingga akhir hadis.

**************



وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا وَمِثْلَهُۥ مَعَهُۥ لَٱفْتَدَوْا۟ بِهِۦ مِن سُوٓءِ ٱلْعَذَابِ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا۟ يَحْتَسِبُونَ 47

(47) Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.

(47) 

Firman Allah Swt.:

وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya. (Az-Zumar: 47)

Yang dimaksud dengan orang yang zalim ialah orang musyrik, yakni seandainya mereka mempunyai semua isi bumi dan kelipatannya.

لافْتَدَوْا بِهِ مِنْ سُوءِ الْعَذَابِ

niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. (Az-Zumar: 47)

yang telah dipastikan oleh Allah buat mereka. Maka tebusan mereka itu sama sekali tidak dapat diterima, meskipun banyaknya adalah emas sepenuh bumi. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. (Ali Imran: 91)

Adapun firman Allah Swt.:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (Az-Zumar: 47)

Yakni tampak jelaslah bagi mereka balasan dan azab dari Allah yang akan ditimpakan kepada mereka, yang selama itu belum pernah terdetik dalam hati mereka dan tidak pula termasuk kedalam perhitungan mereka.