56 - الواقعة - Al-Waaqia

Juz :

The Inevitable
Meccan

إِنَّهُۥ لَقُرْءَانٌۭ كَرِيمٌۭ 77

(77) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,

(77) 

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang mulia. (Al-Waqi'ah:77)

Artinya, Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. benar-benar kitab yang besar.


فِى كِتَٰبٍۢ مَّكْنُونٍۢ 78

(78) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

(78) 

فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ

pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz). (Al-Waqi'ah: 78)

Yaitu dimuliakan tersimpan di dalam kitab yang dimuliakan lagi terpelihara dan diagungkan, yaitu Lauh Mahfuz.


لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلْمُطَهَّرُونَ 79

(79) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

(79) 

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Hakim ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Al-Waqi'ah:79)

Yakni Kitab yang ada di langit.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Al-Waqi'ah: 79) Yaitu para malaikat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Anas, Mujahid. Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Abusy Sya'sa, Jabir ibnu Zaid. Abu Nuhaik, As-Saddi, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami IbnuSaur, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Al-Waqi'ah: 79) Yakni tidak ada yang menyentuhnya di sisi Allah kecuali hamba-hamba yang disucikan. Adapun di dunia, maka sesungguhnya Al-Qur'an itu dapat dipegang oleh orang Majusi yang najis dan orang munafik yang kotor.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ayat ini menurut qiraat Ibnu Mas'ud disebutkan mayamassuhii illal mutahharun, memakai ma.

Abul Aliyah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Al-Waqi'ah: 79) Bukan kamu orang-orang yang berdosa.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa orang-orang Quraisy mempunyai dugaan bahwa Al-Qur'an ini diturunkan oleh setan. Maka Allah menerangkan bahwa Al-Qur'an ini tidak dapat disentuh kecuali oleh hamba-hamba yang disucikan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَمَا تَنزلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ. وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ. إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ

Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Qur’an itu, dan mereka pun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar Al-Qur’an itu. (Asy-Syu'ara: 21-212)

Pendapat ini cukup baik dan tidak menyimpang dari pendapat-pendapat yang sebelumnya.

Al-Farra mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak dapat merasakan makna dan manfaat Al-Qur'an kecuali orang-orang yang beriman kepadanya.

Ulama lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Al-Waqi'ah: 79) Yakni yang suci dari jinabah dan hadas.

Mereka mengatakan bahwa lafaz ayat merupakan kalimat berita, tetapi makna yang dimaksud ialah perintah. Dan mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Qur'an adalah mushaf, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. telah melarang bepergian membawa Al-Qur'an ke negeri musuh karena dikhawatirkan Al-Qur'an itu dirampas oleh musuh. Dan mereka menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta'-nya dari Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm sehubungan dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Saw. ditujukan kepada Amr ibnu Hazm, bahwa tidak boleh menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci.

Abu Daud telah meriwayatkan di dalam himpunan hadis-hadis mursal-nya melalui Az-Zuhri yang mengatakan bahwa aku telah membaca lembaran yang ada pada Abdu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

"وَلَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ"

Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.

Ini merupakan alasan yang baik, telah dibaca oleh Az-Zuhri dan lain-lainnya, dan hal yang semisal dengan pendapat ini dianjurkan untuk dipakai.

Ad-Daruqutni telah mengisnadkannya dari Amr ibnu Hazm dan Abdullah ibnu Amr serta Usman ibnu Abul Asim, tetapi dalam sanad masing-masing dari keduanya perlu diteliti kembali; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


تَنزِيلٌۭ مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ 80

(80) Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.

(80) 

Firman Allah Swt.:

تَنزيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqi'ah: 80)

Artinya, Al-Qur'an ini diturunkan dari Allah Tuhan semesta alam, dan bukanlah seperti apa yang disangka oleh mereka bahwa Al-Qur'an adalah sihir, atau tenung atau syair, bahkan Al-Qur’an itu benar yang tiada keraguan padanya, dan tiadalah di baliknya perkara hak yang bermanfaat.


أَفَبِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ 81

(81) Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?

(81) 

Firman Allah Swt.:

أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ

Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini? (Al-Waqi'ah:81)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mudhinun artinya mendustakan dan tidak membenarkan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak, Abu Hirzah, dan As-Saddi. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,"'Mudhinun," yakni berdiplomasi.


وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ 82

(82) kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.

(82) 

Firman Allah Swt.:

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi'ah: 82)

Sebagian ulama mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan). (Al-Waqi'ah: 82) Yakni terima kasihmu ialah dengan mendustakan. Dengan kata lain, dapat disebutkan air susu dibalas dengan air tuba.

Telah diriwayatkan pula dari Ali dan Ibnu Abbas, bahwa keduanya membaca ayat ini dengan bacaan berikut: "Dan kamu ungkapkan rasa syukur kalian dengan mendustakan," seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Al-Haisam ibnu Addi, bahwa menurut dialek kabilah Azd Syanu-ah bila disebutkan Razaqa Fulanun artinya si Fulan bersyukur.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ عَبْدِ الأعلى، عن أبي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ ، يَقُولُ: "شُكْرَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ، تَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوء كَذَا وَكَذَا، بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abdul Ala, dari Abu Abdur Rahman, dari Ali r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan).(Al-Waqi'ah: 82), maksudnya, kamu membalas rezeki yang Allah berikan dengan mendustakan-Nya; kamu katakan, "Kami telah diberi hujan oleh bintang anu dan oleh bintang anu.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Mukhawwil ibnu Ibrahim An-Nahdi dan Ibnu Jarir, dari Muhammad ibnul Musanna, dari Ubaidillah ibnu Musa dan dari Ya'qub ibnu Ibrahim, dari Yahya ibnu Abu Bukair, ketiga-tiganya dari Israil dengan sanad yang semisal secara marfu'. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Ahmad ibnu Mani', dari Husain ibnu Muhammad Al-Marwazi dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkannya dari Abdul A' la dan tidak me-rafa'-kannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali suatu kaum diberi hujan melainkan pada pagi harinya sebagian dari mereka ada yang kafir; mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu. Lalu Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi'ah: 82)

Sanad asar ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas.

وَقَالَ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كيْسَان، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنّي أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم صلاة الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي أَثَرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ " قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. "قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوَاكِبِ. وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوَاكِبِ".

Malik telah meriwayatkan di dalam kitab Muwatta', dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Zaid ibnu Khalid Al-Juhani yang mengatakan bahwa kami salat Subuh bersama Rasulullah Saw. di Hudaibiyah, seusai turun hujan di malam harinya. Setelah selesai, beliau membalikkan tubuhnya menghadap kepada kami (para makmum), lalu bertanya, "Tahukah kalian, apakah yang dikatakan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw. bersabda: Allah berfirman, "Di pagi hari ini ada sebagian hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan sebagian lainnya kafir. Adapun orang yang mengatakan, 'Kami diberi hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, " maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Dan adapun orang yang mengatakan, 'Kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu, " maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini dan juga Abu Daud dan Nasai semuanya melalui hadis Malik dengan sanad yang sama.

قَالَ مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، وعَمْرو بْنُ سَوّاد، حَدَّثَنَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ؛ أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثه، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ بَرَكَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ فَرِيقٌ مِنَ النَّاسِ بِهَا كَافِرِينَ، يَنْزِلُ الْغَيْثُ، فَيَقُولُونَ: بِكَوْكَبِ كَذَا وَكَذَا".

Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Muradi dan Amr ibnu Sawad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, bahwa Abu Yunus pernah menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Tidak sekali-kali Allah menurunkan dari langit suatu berkah (hujan). melainkan pada pagi harinya ada segolongan manusia yang mengingkarinya. Hujan diturunkan dan mereka mengatakan bahwa itu berkat adanya bintang anu dan bintang anu.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara tunggal melalui jalur ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ لَيُصْبِحُ القومَ بِالنِّعْمَةِ أَوْ يُمسيهم بِهَا فَيُصْبِحُ بِهَا قَوْمٌ كَافِرِينَ يَقُولُونَ: مُطِرنا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا".

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ibrahim ibnul Haris At-Taimi, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar mencurahkan nikmat kepada suatu kaum di pagi hari atau di petang hari, tetapi seusai itu kaum yang kafir (ingkar) kepada nikmat itu mengatakan bahwa kami telah diberi hujan oleh bintang anu dan bintang anu.

Muhammad ibnu Ibrahim mengatakan bahwa lalu ia menuturkan hadis ini kepada Sa'id ibnul Musayyab, maka ia menjawab bahwa kami pun telah mendengarnya dari Abu Hurairah.

Telah menceritakan pula kepadaku seseorang yang menyaksikan Umar ibnul Khattab r.a. melakukan istisqa, ketika ia membaca doa istisqa, ia berpaling ke arah Al-Abbas, lalu bertanya, "Hai Abbas, hai paman Rasulullah, berapa lama lagikah kemunculan bintang surayya?"

Para ulama mengatakan bahwa mereka menduga bahwa bintang surayya itu melintang di ufuk langit sesudah kejatuhannya selama tujuh hari. Kelanjutan asar di atas menyebutkan bahwa belum lagi tujuh hari berlalu, mereka diberi hujan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Umar ini mengandung pengertian menanyakan kebiasaan waktu munculnya bintang tersebut yang biasanya dibarengi dengan turunnya hujan sebagai Sunnatullah. Tetapi bukan berarti bahwa bintang itulah yang menyebabkan turunnya hujan, karena keyakinan seperti ini jelas dilarang. Dan dalam pembahasan yang terdahulu telah dikemukakan sesuatu hal yang menyangkut hadis-hadis ini dalam tafsir firman Allah Swt.:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. (Fathir: 2)

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ -أَحْسَبُهُ أَوْ غَيْرِهِ-أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا -وَمُطِرُوا-يَقُولُ: مُطِرنا بِبَعْضِ عَشَانين الْأَسَدِ. فَقَالَ: "كَذَبْتَ! بَلْ هُوَ رِزْقُ اللَّهِ"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail ibnu Umayyah menurut keyakinanku atau lainnya, bahwa Rasulullah Saw. mendengar seorang lelaki yang baru mendapat hujan di kalangan kaumnya mengatakan, "Kami diberi hujan oleh gugusan bintang Asad (Leo)." Maka Nabi Saw. bersabda menyangkalnya: Kamu dusta, bahkan hujan itu adalah rezeki dari Allah.

ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الصِّرَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو جَابِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْأَزْدِيُّ ، حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مُطِر قَوْمٌ مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ قَوْمٌ بِهَا كَافِرِينَ". ثُمَّ قَالَ: " وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَيَقُولُ قَائِلٌ: مُطِرنا بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا"

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Saleh As-Sirari, telah menceritakan kepada kami Abu Jabir Muhammad ibnu Abdul Malik Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tidaklah suatu kaum diberi hujan di malam harinya melainkan pada pagi harinya kaum itu mengingkarinya. Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi'ah: 82) Seseorang dari mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu.

Menurut hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa'id secara marfu' disebutkan:

"لَوْ قُحِطَ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ مُطِرُوا لَقَالُوا: مُطِرْنَا بِنَوْءِ المِجْدَح"

Seandainya manusia mengalami paceklik selama tujuh tahun, lalu diberi hujan, tentulah mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang mujadda'.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi'ah: 82) Yakni ucapan mereka tentang bintang-bintang itu. Mereka mengatakan.”Kami diberi hujan oleh bintang anu dan bintang anu." Maka demikian pula dijawab, "Katakanlah oleh kalian bahwa hujan itu adalah dari sisi Allah dan rezeki dari-Nya."

Hal yang'sama dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Qatadah mengatakan bahwa Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seburuk-buruk apa yang diambil oleh suatu kaum buat diri mereka sendiri ialah tidaklah mereka diberi rezeki berupa Kitabullah, melainkan hanya mendustakannya. Makna yang dimaksud dari ucapan Al-Hasan ini ialah dan kalian jadikan bagian kalian dari Kitabullah ialah dengan mendustakannya. Karena itulah dalam ayat sebelumnya disebutkan: Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini? Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi'ah: 81-82)


فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ 83

(83) Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,

(83) 

Firman Allah Swt.:

فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ

Maka mengapa ketika sampai. (Al-W'aqi'ah:83)

Yakni nyawa atau roh.

الْحُلْقُومَ

di kerongkongan. (Al-Waqi'ah:83)

Maksudnya, tenggorokan. Hal ini terjadi di saat seseorang mengalami ihtidar (sekarat)nya, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

كَلا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ. وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ. وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ. وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu digiring. (Al-Qiyamah:26-3)



وَأَنتُمْ حِينَئِذٍۢ تَنظُرُونَ 84

(84) padahal kamu ketika itu melihat,

(84) 

Karena itulah dalam surat ini disebutkan:

وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ

padahal ketika itu kamu melihat. (Al-Waqi'ah:84)

Yakni kepada orang yang sedang ihtidar dan sakaratulmaut yang dialaminya.


وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ 85

(85) dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,

(85) 

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. (Al-Waqi'ah:85)

Yaitu melalui malaikat-malaikat Kami.

وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

Tetapi kamu tidak melihat. (Al-Waqi'ah:85)

Artinya, tetapi kalian tidak melihat mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ. ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلاهُمُ الْحَقِّ أَلا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah. Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat. (Al-An'am:61-62)


فَلَوْلَآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ 86

(86) maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?

(86) 

Adapun firman Allah Swt.:

فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ 

Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? . (Al-Waqi'ah:86)

Maknanya ialah bahwa mengapa kamu tidak mengembalikan roh yang sekarang telah sampai di kerongkonganmu ke tempatnya semula dalam tubuhmu, jika kamu merasa tidak berada dalam kekuasaan Allah? Menurut Ibnu Abbas r.a. makna madinin ialah dihisab. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Abu Hirzah.

Sa'id ibnu Jubair dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? (Al-Waqi'ah:86) Yakni tidak percaya bahwa kamu akan dibalasi dan dibangkitkan serta dihisab, maka kembalikanlah rohmu itu ke tempatnya.

Diriwayatkan pula dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak dikuasai (oleh Allah). (Al-Waqi'ah:86) Yaitu tidak meyakini.

Maimun ibnu Mahran mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak diazab dan tidak dikalahkan.


تَرْجِعُونَهَآ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ 87

(87) Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?

(87) 

 تَرْجِعُونَهَا

Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya). (Al-Waqi'ah: 87)


فَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ 88

(88) adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

(88) 

Ketika keadaan ini merupakan kepastian yang dialami oleh manusia saat menghadapi kematiannya. Adakalanya dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, atau bukan termasuk golongan kanan, dan adakalanya termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk dan tidak mengerti tentang perintah Allah. Untuk itu maka disebutkan oleh firman-Nya:

فَأَمَّا إِنْ كَانَ

Adapun jika dia. (Al-Waqi'ah:88)

Yakni orang yang sedang menghadapi kematiannya.

مِنَ الْمُقَرَّبِينَ

termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi'ah:88)

Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal-amal yang wajib dan yang sunat serta meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan, serta sebagian hal yang diperbolehkan.


فَرَوْحٌۭ وَرَيْحَانٌۭ وَجَنَّتُ نَعِيمٍۢ 89

(89) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan.

(89) 

فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ

maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah:89)

Mereka akan mendapatkan ketenteraman dan kesenangan serta para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka di saat mereka menghadapi kematiannya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis Al-Barra yang menyebutkan bahwa sesungguhnya para malaikat rahmat mengatakan, Hai roh yang baik yang ada di dalam tubuh yang baik yang kamu huni, keluarlah kamu menuju kepada ketenteraman, kesenangan, dan menemui Tuhan yang tidak murka.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman. (Al-Waqi'ah:89) Yaitu ketenteraman dan kesenangan, yakni ketenangan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna rauh ialah ketenteraman.

Abu Hirzah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah beristirahat dari dunia.

Sa'id ibnu Jubair dan As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah terbebas.

Telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi'ah:89) Yakni surga dan kesenangan.

Qatadah mengatakan bahwa rauh artinya rahmat.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, Raihan artinya rezeki.

Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas satu sama lainnya berdekatan lagi benar. Karena sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan didekatkan kepada Allah akan memperoleh kesemuanya itu, yaitu rahmat, ketenteraman, kebebasan, istirahat, kesenangan, kegembiraan, dan rezeki yang baik.

وَجَنَّةُ نَعِيمٍ

serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah:89)

Abul Aliyah mengatakan bahwa tidaklah roh seseorang yang didekatkan kepada Allah terpisah dari jasadnya sebelum didatangkan kepadanya suatu tangkai (dahan) dari pepohonan surga yang harum, sesudah itu barulah rohnya dicabut di dalamnya.

Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa tidaklah seorang manusia meninggal dunia sebelum diperlihatkan kepadanya apakah dia termasuk ahli surga ataukah ahli neraka? Dan dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis-hadis yang mengisahkan tentang masa menjelang kematian, yaitu dalam tafsir firman-Nya:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. (Ibrahim:27)

Sebaiknya kita sebutkan salah satu di antaranya yang paling utama, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Tamim Ad-Dari, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى فُلَانٍ فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنَّهُ قَدْ جَرَّبْتُهُ بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ فَوَجَدْتُهُ حَيْثُ أُحِبُّ، ائْتِنِي بِهِ فَلَأُرِيحَنَّهُ. قَالَ: فَيَنْطَلِقُ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ وَمَعَهُ خَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ أَكْفَانٌ وحَنُوط مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَعَهُمْ ضَبَائر الرَّيْحَانِ، أَصِلُ الرَّيْحَانَةِ وَاحِدٌ وَفِي رَأْسِهَا عِشْرُونَ لَوْنًا، لِكُلِّ لَوْنٍ مِنْهَا رِيحٌ سِوَى رِيحِ صَاحِبِهِ، وَمَعَهُمُ الْحَرِيرُ الْأَبْيَضُ فِيهِ الْمِسْكُ.

bahwa Allah Swt. berfirman kepada malaikat maut: Berangkatlah kamu kepada si Fulan dan datangkanlah dia kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah mengujinya dengan keadaan suka dan duka, ternyata Kujumpai dia dalam keadaan yang Aku sukai. Datangkanlah dia, maka Aku akan membuatnya senang.” Kemudian malaikat maut berangkat menuju kepadanya dengan ditemani oleh lima ratus malaikat, mereka membawa kafan-kafan dan kapur barus dari surga, juga membawa beberapa kayu wangi (cendana) yang setiap ikatan mengandung dua puluh macam jenis dan masing-masing jenis mempunyai bau wangi yang berbeda dengan lainnya, dan mereka membawa pula kain sutra putih yang mengandung minyak kesturi. Hingga akhir hadis yang cukup panjang sebagaimana yang telah disebutkan dalam tafsir surat Ibrahim.

Banyak hadis yang diketengahkan sehubungan dengan ayat ini, seperti berikut:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Harun, dari Badil ibnu Maisarah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. membaca firman-Nya dengan me-rafa'-kan huruf ra: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi'ah:89)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi dan Nasai melalui hadis Harun alias Ibnu Musa yang tuna netra dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi memberikan komentarnya bahwa kami tidak mengenal hadis ini kecuali melalui hadis Harun. Dan qira-ah ini adalah qira-ah Ya'qub semata. Sedangkan ulama qira-at lainnya berbeda dengannya, mereka membacanya: Farauhun waraihanun.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَة، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَوْفَلٍ: أَنَّهُ سَمِعَ دُرَّةَ بِنْتَ مُعَاذٍ تُحَدِّثُ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ: أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَتَزَاوَرُ إِذَا مُتْنَا وَيَرَى بَعْضُنَا بَعْضًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَكُونُ النَسمُ طَيْرًا يَعْلُقُ بِالشَّجَرِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ دَخَلَتْ كُلُّ نَفْسٍ فِي جَسَدِهَا

Imam Ahmad mengatakan pula,, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Naufal, bahwa ia pernah mendengar Durrah binti Mu'az menceritakan hadis berikut dari Ummu Hani' yang bertanya kepada Rasulullah, Apakah kami saling berkunjung bila telah mati dan sebagian dari kami melihat sebagian yang lainnya? Maka Rasulullah Saw. menjawab: Kelak diri seseorang itu berupa burung yang hinggap di pepohonan (surga), dan manakala hari kiamat telah terjadi, maka tiap-tiap jiwa (roh) masuk ke dalam tubuhnya masing-masing.

Hadis ini mengandung berita gembira bagi tiap orang mukmin. Makna yang dimaksud dengan 'hinggap' ialah 'makan', yakni makan dari pohon-pohon yang dihinggapinya.

Kesahihan hal ini dibuktikan pula dengan hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dari Imam Malik ibnu Anas, dari Az-Zuhri, dari Abdur Rahman ibnu Ka'b ibnu Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:

إِنَّمَا نَسَمة الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجِرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ

Sesungguhnya jiwa orang mukmin itu berupa burung yang bergantung di pepohonan surga hingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.

Sanad hadis ini hebat dan matannya dapat dipertanggungjawabkan.

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طَيْرٍ خُضْرٍ تَسْرَحُ فِي الْجَنَّةِ (4) حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مُعَلَّقَةٍ بِالْعَرْشِ

Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di taman-taman surga sekehendak hatinya, kemudian hinggap di lentera-lentera yang bergantungan di Arasy.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ قَالَ: كَانَ أَوَّلُ يَوْمٍ عَرَفْتُ فِيهِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى: رَأَيْتُ شَيْخًا أَبْيَضَ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ عَلَى حِمَارٍ، وَهُوَ يَتْبَعُ جِنَازَةً، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: حَدَّثَنِي فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. قَالَ: فَأَكَبَّ الْقَوْمُ يَبْكُونَ فَقَالَ: مَا يُبكيكم؟ فَقَالُوا: إِنَّا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّهُ إِذَا حُضِر فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ. فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ، فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِلِقَائِهِ أَحَبُّ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ. فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ [وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ] فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ كَرِهَ لِقَاءَ الله، والله للقاءه أَكْرَهُ.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa'ib yang mengatakan bahwa pada hari pertama mula-mula ia mengenal Abdur Rahman ibnu Abu Laila, ia melihatnya sebagai seorang syekh yang telah beruban rambut dan jenggotnya, sedang mengendarai keledai mengiringi jenazah. Lalu ia mendengarnya mengata­kan bahwa Fulan bin Fulan yang telah mendengar dari Rasulullah Saw. telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang mencintai (hari) perjumpaannya dengan Allah, maka Allah suka berjumpa dengannya; dan barang siapa yang benci akan perjumpaannya dengan Allah, maka Allah benci pula berjumpa dengannya. Maka kaum yang ada menangis, lalu Rasulullah Saw. bertanya, Mengapa kalian menangis? Mereka menjawab, Sesungguhnya kami benci mati. Rasulullah Saw. bersabda, bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi apabila menjelang ajalnya. adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 88-89) Apabila ia mendapat berita gembira tersebut, maka timbullah rasa cintanya untuk bersua dengan Allah, sedangkan Allah Swt. lebih suka darinya untuk bersua dengannya. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi'ah: 92-94) Apabila dia telah mendapat berita tersebut, maka dia benci untuk bersua dengan Allah, dan Allah lebih benci untuk bersua dengannya.

Hal yang semakna telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Di dalam kitab sahih disebutkan dari Aisyah r.a. hadis yang menguatkan maknanya.


وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ 90

(90) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,

(90) 

Firman Allah Swt.:

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah:90)

Yakni apabila orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk golongan kanan,


فَسَلَٰمٌۭ لَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ 91

(91) maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.

(91) 

فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. (Al-Waqi'ah:

91)

Yaitu para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka. Berkata malaikat kepada salah seorang dari mereka, Salaimun laka artinya kamu dalam keadaan baik-baik saja dan selamat, kamu termasuk golongan kanan.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat mengucapkan kepadanya, Selamatlah kamu dari azab Allah, dan para malaikat mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah, bahwa para malaikat mengucapkan salam kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia termasuk golongan kanan.

Pendapat ini merupakan pendapat yang baik, dan pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu mem­peroleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Fushshilat: 3-32)

Imam Bukhari telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka keselamatan bagimu. (Al-Waqi'ah: 91) Yakni kamu diselamatkan karena kamu termasuk golongan kanan, kemudian dalam bahasa Arabnya dipersingkat ungkapannya yaitu dengan membuang huruf an, tetapi maknanya masih tetap. Sebagaimana kamu katakan, Kamu benar akan melakukan perjalanan sebentar lagi, bilamana sebelumnya ia mengatakan, Sesungguhnya aku akan bepergian sebentar lagi. Dan adakalanya ungkapan, Salamun laka ini mengandung doa, sebagaimana ucapanmu, uSuqyan laka minar rijali, semoga kamu mendapat pengairan karena kamu termasuk laki-laki; ini jika lafaz salamun dibaca rafa', maka termasuk doa.

Demikianlah apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ulama bahasa yang kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُكَذِّبِينَ ٱلضَّآلِّينَ 92

(92) Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,

(92) 

Firman Allah Swt.:

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ

Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat. (Al-Waqi'ah:92)

Maksudnya, jika orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk.


فَنُزُلٌۭ مِّنْ حَمِيمٍۢ 93

(93) maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,

(93) 

فَنزلٌ

maka dia mendapat hidangan. (Al-Waqi'ah:93)

Yakni sajian.

مِنْ حَمِيمٍ

air yang mendidih. (Al-Waqi'aht

93)

Artinya, air yang mendidih yang dapat menghancurkan semua isi perut dan kulitnya.



وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ 94

(94) dan dibakar di dalam jahannam.

(94) 

وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi'ah:94)

Ini mengukuhkan keberadaannya di dalam neraka yang mengepungnya dari segala penjuru.


إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ ٱلْيَقِينِ 95

(95) Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.

(95) 

Kemudian Allah Swt. berfirman:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ

Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (Al-Waqi'ah:95)

Yaitu berita ini benar-benar hal yang pasti terjadi, tiada keraguan dan tiada kebimbangan padanya, dan tiada jalan lari bagi seorang pun darinya.


فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ 96

(96) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.

(96) 

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Waqi'ah:96)

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنِ أَيُّوبَ الْغَافِقِيِّ، حَدَّثَنِي عمِّي إِيَاسُ بْنُ عَامِرٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ قَالَ: اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ وَلَمَّا نَزَلَتْ: سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى [الْأَعْلَى:1] ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ayyub Al-Gafiqi, telah menceritakan kepadaku Iyas ibnu Amir, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah Saw. ayat ini, yaitu firman-Nya: Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Waqi'ah:96) Maka beliau Saw. bersabda: Jadikanlah bacaan tasbih ini dalam rukuk kalian. Dan ketika turun kepada beliau Saw. firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la:1) Maka beliau Saw. bersabda: Jadikanlah bacaan ini dalam sujud kalian.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Abdullah ibnul Mubarak, dari Musa ibnu Ayyub dengan sanad yang sama.

قَالَ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ الصَّوافُ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ.

Rauh ibnu Ubadah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj As-Sawwaf dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan, Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan dengan memuji kepada-Nya, maka ditanamkan baginya sebuah pohon kurma di dalam surga.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui hadis Rauh, dan Imam Nasai meriwayatkannya pula melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari hadis Abuz Zubair, dari Jabir, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Abuz Zubair.

قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي آخِرِ كِتَابِهِ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا عُمارة بْنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِي زُرْعَة، عَنْ أَبِي هُريرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ.

Imam Bukhari di dalam akhir kitabnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Imarah ibnul Qa'qa', dari Abu Zar'ah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ada dua kalimah yang ringan di mulut, berat dalam timbangan amal perbuatan, lagi disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu: Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Besar.


57 - الحديد - Al-Hadid

Juz :

The Iron
Medinan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ 1

(1) Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(1) 

Allah Swt. menceritakan bahwa bertasbih kepada-Nya semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, yakni semua makhluk hidup dan tetumbuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra: 44)

Adapun firman Allah Swt.:

وَهُوَ الْعَزِيزُ

Dan Dialah Yang Mahaperkasa. (Al-Hadid: 1)

yang tunduk patuh kepada-Nya segala sesuatu.

الْحَكِيمُ

lagi Mahabijaksana. (Al-Hadid: 1)

terhadap makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam perintah dan syariat­Nya.



لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ 2

(2) Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(2) 

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan. (Al-Hadid: 2)

Yakni Dialah yang memiliki lagi yang mengatur makhluk-Nya, maka Dia menghidupkan dan mematikan, juga memberikan apa yang dikehendaki-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Hadid: 2)

Yaitu apa yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tiada.


هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ 3

(3) Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

(3) 

Firman Allah Swt.:

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin. (Al-Hadid: 3)

Ayat inilah yang diisyaratkan oleh hadis Irbad ibnu Sariyah, bahwa ayat ini lebih utama daripada seribu ayat.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abbas ibnu Abdul Azim, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abu Zamil yang mengatakan, "Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas, 'Coba terka apakah yang sedang kusimpan di dalam hatiku.' Ibnu Abbas balik bertanya, 'Coba terangkan, apakah itu?' Aku menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan mengutarakannya.' Ibnu Abbas berkata, 'Apakah suatu dosa?" Lalu Ibnu Abbas berkata, 'Tiada seorang pun yang selamat dari dosa.' Ia mengatakan ini sambil tertawa." Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa hingga Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu. (Yunus: 94), hingga akhir ayat. Dan Ibnu Abbas berkata lagi kepadaku, "Jika kamu merasakan sesuatu dalam dirimu, maka bacalah firman-Nya: 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu' (Al-Hadid: 3)."

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna ayat ini, pendapat mereka kurang lebih ada belasan.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Yahya telah berkata bahwa yang dimaksud dengan Zahir ialah mengetahui lahiriah segala sesuatu. Dan yang dimaksud dengan Batin ialah mengetahui apa yang tersimpan dalam diri segala sesuatu.

Guru kami Al-Hafiz Al-Mazi mengatakan bahwa Yahya ini adalah Ibnu Ziad Al-Farra, dia mempunyai sebuah karya tulis yang berjudul Ma'anil Qur'an.

Dan mengenai makna ayat ini banyak hadis yang menerangkannya, antara lain ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:

حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ سُهيل بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو عِنْدَ النَّوْمِ: "اللَّهُمَّ، رب السموات السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ. اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ"

telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. sering membaca doa ini di saat menjelang tidurnya, yaitu: Ya Allah, Tuhan Yang Menguasai tujuh langit dan Tuhan yang menguasai 'Arasy yang besar. Ya Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Yang menurunkan Taurat, Injil, danAl-Qur’an, Yang membelah biji dan benih, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Engkau adalah Yang Awal, maka tiada sesuatu pun sebelum Engkau. Dan Engkau adalah Yang Akhir, maka tiada sesuatu pun sesudah Engkau. Dan Engkau Yang Zahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau. Dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Tunaikanlah dari kami utang-utang kami, dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.

وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيل قَالَ: كَانَ أَبُو صَالِحٍ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ: أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ، ربّ السموات وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ، أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ.

Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Zuhair ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Suhail yang mengatakan bahwa dahulu Abu Saleh menganjurkan kepada kami bahwa apabila seseorang dari kami hendak tidur, hendaklah ia berbaring pada lambung kanannya, kemudian mengucapkan doa berikut: Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit, Tuhan yang menguasai bumi, Tuhan yang menguasai Arasy yang besar. Ya Tuhan kami dan Tuhan yang menguasai segala sesuatu, Yang membelah biji dan benih, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan setiap makhluk yang jahat yang ubun-ubunnya berada di genggaman-Mu. Ya Allah, Engkau adalah Yang Awal, maka tiada sesuatu pun sebelum Engkau; dan Engkau Yang Akhir, maka tiada sesuatu pun sesudah Engkau; dan Engkau YangZahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau; dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Maka tunaikanlah dari kami utang-utang kami dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.

Tersebutlah bahwa Abu Saleh meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw.

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli telah meriwayatkan di dalam kitab musnadnya, dari Aisyah Ummul Mu’minin hal yang semisal dengan hadis ini. Untuk itu dia mengatakan:

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا السَّرِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِفِرَاشِهِ فَيُفْرَشُ لَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، فَإِذَا أَوَى إِلَيْهِ تَوَسَّدَ كَفَّهُ الْيُمْنَى، ثُمَّ هَمَسَ-مَا يُدْرَى مَا يَقُولُ-فَإِذَا كَانَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ رفع صوته فقال: "اللهم، رب السموات السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، إِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ، وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ، أَنْتَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ"

telah menceritakan kepada kami Uqbah, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Ismail, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw. memerintahkan kepadanya untuk menggelarkan kasurnya, maka digelarkanlah kasurnya dengan menghadap ke arah kiblat. Dan apabila beliau Saw. merebahkan diri di atasnya, maka beliau jadikan telapak tangan kanannya sebagai bantal, lalu bergumam yang tidak kuketahui apa yang dibacanya. Dan apabila malam hari menjelang akhirnya, maka beliau Saw. mengeraskan suaranya seraya membaca doa berikut: Ya Allah, Tuhan Yang menguasai tujuh langit, Tuhan Yang menguasai Arasy yang besar, Tuhan segala sesuatu dan Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, Yang membelah biji dan benih, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau adalah Yang Awal yang tiada sesuatu pun sebelum Engkau, dan Engkau adalah Yang Akhir yang tiada sesuatu pun sesudah Engkau; dan Engkau Yang Zahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau; dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Tunaikanlah dari kami utang-utang kami, dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.

As-Sirri ibnu Ismail ini adalah anak lelaki pamannya Asy-Sya'bi, dia orangnya daif hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abu Isa alias Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid dan lainnya yang bukan hanya seorang, tetapi semuanya meriwayatkan hal yang sama. Mereka mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah yang telah mengatakan bahwa Al-Hasan telah menceritakan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Saw. sedang duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba mendung menutupi mereka, maka Nabi Saw. bersabda, "Tahukah kalian, apakah awan ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. menjawab, "Awan inilah yang menyirami bumi, awan ini digiring menuju ke tempat suatu kaum yang tidak mensyukuri Allah dan tidak pernah berdoa kepada Allah." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atas kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas kalian adalah langit yang tinggi yang merupakan atap yang terpelihara dan gelombang yang tertutup." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian, berapakah jarak antara kalian dan langit itu?" Mereka berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Jarak antara kalian dan langit adalah lima ratus tahun." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atasnya?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas itu ada langit lagi yang jarak di antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun," hingga Nabi Saw. menyebutkannya sampai tujuh langit, dan bahwa jarak antara tiap-tiap dua langit sama dengan jarak antara langit dan bumi. Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atas semuanya itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas semuanya itu terdapat 'Arasy yang jarak antara 'Arasy dan langit (yang ketujuh) sama dengan jarak antara satu langit ke langit yang lainnya. Nabi Saw. bersabda, "Tahukah kalian, apakah yang ada di bawah kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. menjawab, "Sesungguhnya yang di bawah kalian adalah bumi." Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apa yang ada di bawah bumi?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di bawah bumi ini terdapat bumi lainnya yang jarak di antara keduanya sama dengan perjalanan lima ratus tahun," hingga Nabi Saw. menyebutnya sampai tujuh lapis bumi, dan bahwa jarak dari satu bumi ke bumi yang lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya kalian mengulurkan tambang ke bumi yang paling bawah, tentulah tambang itu akan turun sampai kepada Allah." Lalu Nabi Saw. membaca firman Allah Swt.: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalurnya. Diriwayatkan pula dari Ayyub, Yunus ibnu Ubaid, dan Ali ibnu Zaid, mereka mengatakan bahwa Al-Hasan belum pernah mendengar dari Abu Hurairah.

Sebagian ahlul 'ilmi menakwilkan makna hadis ini. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'turun sampai kepada Allah' ialah ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaruh-Nya. Karena sesungguhnya ilmu, kekuasaan, dan pengaruh Allah Swt. itu berada di mana-mana dan di semua tempat, sedangkan Dia di atas 'Arasy, sebagaimana yang disebutkan di dalam Kitab-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini melalui Syuraih, dari Al-Hakam ibnu Abdul Malik, dari Qatadah, dari Al-Hasan dan Abu Hurairah, dari Nabi Saw., lalu disebutkan hal yang semisal. Dalam riwayat ini disebutkan pula bahwa jarak dari satu bumi ke bumi lainnya adalah perjalanan tujuh ratus tahun. Disebutkan juga bahwa seandainya seseorang dari kalian menjulurkan tambang ke bumi lapis yang ketujuh, niscaya sampailah tambang itu kepada Allah. Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)

Ibnu Abu Hatim dan Al-Bazzar meriwayatkan hadis ini melalui Abu Ja'far Ar-Razi, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hadis yang semisal. Tetapi Ibnu Abu Hatim tidak menyebutkan bagian terakhirnya, yaitu bahwa seandainya kamu menjulurkan tambang. Akan tetapi, yang disebutkannya ialah hingga menghitung tujuh lapis bumi yang jarak antara satu lapis bumi ke lapis bumi lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun. Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, YangZahir dan YangBatin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)

Dan Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada yang meriwayatkan hadis ini dari Nabi Saw. selain Abu Hurairah.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Bisyr, dari Yazid, dari Sa'id, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. (Al-Hadid: 3) Telah diceritakan kepada kami bahwa ketika Nabi Saw. sedang duduk di antara para sahabatnya, tiba-tiba berlalulah di atas mereka sekumpulan awan. Maka Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian, awan apakah ini?" Kemudian dilanjutkan seperti konteks yang ada pada hadis Imam Turmuzi, hanya berdasarkan riwayat ini predikat hadis adalah mursal, dan barangkali jalur inilah yang terkenal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Telah diriwayatkan pula hal ini melalui hadis Abu Zar Al-Gifari r.a. yang dikemukakan oleh Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya, dan Imam Baihaqi di dalam Kitabul Asma Was Sifat, tetapi sanadnya masih perlu diteliti dan di dalam matannya terdapat hal yang garib dan munkar; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir sehubungan dengan firman-Nya: dan seperti itu pula bumi. (Ath-Thalaq: 12) telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa empat malaikat bersua di antara langit dan bumi. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Dari manakah kamu datang?" Seseorang dari mereka menjawab, "Tuhanku telah mengutusku dari langit yang ketujuh dan Dia kutinggalkan di sana." Kemudian yang lainnya berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari bumi yang ketujuh, dan Dia kutinggalkan di sana." Yang lainnya berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari arah timur dan Dia kutinggalkan di sana." Dan yang lainnya lagi berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari arah barat dan Dia kutinggalkan di sana." Hadis ini garib sekali, dan adakalanya hadis yang pertama tadi mauquf hanya. sampai pada Qatadah, sebagaimana pula hadis ini, yaitu dari perkataan Qatadah sendiri; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.